Para vendor ultrabook tampaknya harus berusaha lebih keras untuk membujuk para CIO (Chief Information Officer) dari perusahaan-perusahaan terkemuka agar mau memilih ultrabook buatan mereka, karena tingginya harga yang ditetapkan oleh masing-masing vendor masih menjadi kendala utama yang membuat para CIO tersebut enggan untuk memilih produk ultrabook sebagai perangkat standar bagi perusahaan masing-masing.
Bagi Anda yang belum familiar dengan ultrabook, perangkat ini adalah laptop jenis terbaru yang desainnya jauh lebih ramping, kecepatan booting-nya jauh lebih cepat dan juga lebih hemat energi jika dibandingkan laptop standar, kemampuan processing-nya juga cukup ampuh untuk menjalankan tugas sehari-hari. Namun harga untuk produk yang didesain untuk menyaingi MacBook Air dari Apple ini memang masih sangat mahal, dan hal tersebut jelas menjadi pengganjal utama dari para pengguna yang lebih mementingkan nilai fungsi daripada nilai gaya.
Ketika ditanyai oleh TechRepublic apakah para CIO tersebut mau untuk memilih ultrabook sebagai perangkat yang digunakan dalam perusahaan masing-masing, 11 dari 12 orang CIO tersebut mengatakan TIDAK.
Mayoritas memandang produk ultrabook terlalu mahal, dan ada juga yang beranggapan bahwa tidak ada peningkatan produktivitas yang didapat dengan beralih menggunakan ultabook. Salah satu responden malah beranggapan bahwa iPad lebih cocok untuk digunakan sebagai perangkat standar di segmen korporat.
Memang ada 1 orang CIO yang setuju dengan penggunaan ultrabook, namun dia mengajukan syarat bahwa perusahaannya akan menunggu kedatangan platform generasi ke-2 terlebih dahulu sebelum benar-benar beralih ke ultrabook. Karena selain harganya akan lebih murah di tahun 2013, para vendor juga pasti akan menghadirkan sejumlah perbaikan untuk bug-bug yang terdapat pada produksi ultrabook generasi pertama.